Dengan Nama Allah

Semoga Allah membuka ruang hati untuk diisi dengan manfaat dan meletakkan DIA di tempat yang KUKUH dan TEGUH.Segala isi manfaat di dalam blog ini dibenarkan untuk di kongsi bersama,copy paste dan sebagainya.dengan menyatakan link blog ini.semoga Allah REDHA~!

JITIS

Saturday, March 8, 2008

detik2 terakhir zaman khilafah..

Menurut uraian Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya Ad Daulah Al-Islamiyah (1953), pada saat Perang Dunia I berakhir (1918), wilayah yang ada di tangan Khilafah Utsmaniyah hanya negeri Turki saja. Itupun sudah dimasuki oleh Sekutu.----------Menurut uraian Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya Ad Daulah Al-Islamiyah (1953), pada saat Perang Dunia I berakhir (1918), wilayah yang ada di tangan Khilafah Utsmaniyah hanya negeri Turki saja. Itupun sudah dimasuki oleh Sekutu. Inggris misalnya menduduki selat Dardanel dan selat Bosporus, Perancis menduduki sebagian kota Istambul, dan Italia menduduki jalur kereta api di Turki.

Pada saat itu Khalifahnya adalah Wahidudin yang berkuasa di bawah tekanan dan kendali Sekutu. Pada pertengahan tahun 1919 keadaan mulai berubah tatkala muncul konflik intern di antara Sekutu. Mereka berselisih untuk memperebutkan ghanimah dan berbagai posisi strategis dalam kemiliteran dan hak-hak khusus ekonomi. Keadaan ini menimbulkan harapan baru bagi rakyat Turki untuk menyusun gerakan perlawanan terhadap Sekutu. Di Istambul terbentuk lebih dari 10 gerakan rahasia yang bertujuan mencuri senjata yang dimiliki musuh, lalu mengirimkannya kepada organisasi-organisasi rahasia di dalam negeri Turki. Berbagai organisasi ini kemudian berhimpun dalam satu gerakan yang dipimpin oleh Musthofa Kamal. Musthofa Kamal melakukan gerakan untuk melawan dan mengusir Sekutu serta melawan tentara Khalifah jika mereka merintangi Musthofa Kamal. Dia memperoleh keberhasilan besar dalam usahanya ini. Kemudia Musthofa Kamal mengadakan sebuah Konferensi Nasional (Mu`tamar Wathoni) di Sewastopoli yang membahas cara dan sarana untuk memerdekakan Turki. Konferensi ini menetapkan beberapa keputusan, di antaranya adalah membentuk Badan Pekerja (Lajnah Tanfidiyah), memilih Musthofa Kamal sebagai ketuanya, serta mengirimkan peringatan kepada Sultan (Khalifah) untuk memberhentikan Perdana Menteri Farid dan mengadakan pemilihan anggota parlemen yang baru. Sultan yang berada di bawah tekanan kemudian menuruti permintaan untuk memberhentikan Perdana Menteri dan melangsungkan pemilihan untuk anggota parlemen. Tokoh-tokoh Konferensi --yang menampakkan diri sebagai kelompok yang akan menyelamatkan negeri Turki-- berhasil mendapatkan suara mayoritas di parlemen yang baru.Setelah kemenangannya ini, Konferensi dan tokoh-tokohnya berpindah ke Ankara dan menjadikan Ankara sebagai pusat kegiatan mereka. Mereka lalu mengadakan rapat di Ankara dan mengusulkan agar sidang-sidang parlemen dilaksananakan di Istambul dan agar Konferensi dibubarkan setelah para anggotanya menjadi wakil-wakil rakyat yang resmi dalam parlemen yang baru. Namun Musthafa Kamal menolak dua usulan ini dengan keras, meskipun dia akhirnya gagal meyakinkan mereka agar tetap mengadakan sidang-sidangnya di Ankara. Para anggota parlemen ini kemudian pergi ke Ibukota (Istambul) dan menyatakan loyalitas mereka kepada Khalifah. Peristiwa ini terjadi pada Januari 1920 (An Nabhani, 1953).Setelah itu Sultan dan orang-orang Inggris yang ada di belakangnya berusaha mendiktekan kehendaknya kepada para anggota parlemen tersebut. Mereka menolak.

Ketika tekanan Sekutu semakin kuat, para anggota parlemen itu lalu menyebarluaskan Piagam Nasional (Al Mitsaq Al Wathoni) yang mereka tetapkan pada konferensi Sewastopoli, yaitu piagam yang memuat syarat-syarat dasar bagi penerimaan perdamaian antara Turki dan Sekutu. Syarat yang terpenting adalah bahwa Turki merupakan "sebuah negeri yang bebas dan berdiri sendiri yang berada dalam suatu wilayah yang terbatas dan tetap.

" Tak pelak lagi, Sekutu --terutama Inggris-- merasa gembira terhadap syarat ini, karena justru inilah yang ingin mereka wujudkan. Dalam pandangan Sekutu, andaikata Irak, Suriah, Palestina, dan Mesir masing-masing memiliki Piagam Nasional seperti itu, maka mereka akan dapat memecah belah Daulah Utsmaniyah menjadi beberapa negara, sehingga negara ini akan lemah dan mudah untuk dihancurkan. Maka dari itu, Sekutu menganggap Piagam Nasional Turki ini adalah puncak kemenangan mereka. Setelah penyebarluasan Piagam Nasional ini kepada khalayak, mereka membiarkan orang-orang Turki untuk melakukan perlawanan, sementara mereka menarik kekuatan pasukannnya di segala tempat.

Orang-orang Turki kemudian melakukan perlawanan, namun perlawanan itu berubah sasaran. Yang semula perlawanan kepada musuh (Sekutu), akhirnya menjadi revolusi untuk menggulingkan Sultan, dikarenakan provokasi Musthofa Kamal terhadap rakyat untuk membenci Sultan. Sultan kemudian menyiapkan pasukan untuk memadamkan perlawanan ini. Seluruh rakyat boleh dikatakan membela Sultan, kecuali orang-orang di Ankara yang menjadi pusat revolusi. Musthofa Kamal yang terkepung di Ankara memperhebat provokasinya terhadap rakyat. Dia menyebarkan isu bahwa Inggris telah menduduki ibukota Turki, menangkapi rakyat, menutup gedung parlemen dengan paksa, dan bahwa Sultan mendukung tindakan Inggris ini. Keadaan pun berubah.

Rakyat kemudian berpaling dari Sultan dan berpihak kepada orang-orang di Ankara. Banyak pasukan Khalifah yang kemudian bergabung dengan pasukan Musthafa Kamal. Kedudukan Musthafa Kamal akhirnya menjadi kuat sehingga dia kemudian mengajak rakyat untuk menyelenggarakan pemilu untuk membentuk Dewan Nasional (Jam'iyah Wathoniyah).Berlangsunglah kemudian pemilihan ini. Para anggotanya yang baru kemudian berkumpul dan menamakan dirinya dengan Dewan Nasional Raya (Al Jam'iyah Al Wathoniyah Al Kubro).Mereka menganggap Dewan inilah yang merupakan pemerintahan yang sah. Mereka lalu memilih Musthofa Kamal menjadi ketua Dewan. Musthofa Kamal kemudian menumpas sisa-sisa tentara Khalifah dan menghentikan perang saudara. Kemudian dia memerangi Yunani --yang menduduki Izmir dan sebagian kawasan pantai Turki-- dan berhasil mengalahkannya pada tahun 1921.

Pada bulan September 1921 Musthofa Kamal mengirimkan utusan kepada Ismet (Wakil Menteri Urusan Perang) untuk menemui Harrington (Wakil Sekutu) guna mengadakan kesepakatan secara lebih terperinci. Dalam hal ini Sekutu setuju untuk mengusir orang-orang Yunani dari daerah Trys dan setuju untuk mengusir diri mereka sendiri dari Konstantinopel dan Turki seluruhnya. Bila kita ikuti langkah-langkah Musthofa Kamal ini, akan nampak jelas bahwa persetujuan ini sesungguhnya adalah imbalan yang diberikan Sekutu terhadap tindakan Musthofa Kamal untuk menghancurkan pemerintahan Islam (Khilafah). Karena itulah, ketika dia berbicara tentang masa depan Turki di hadapan Dewan Nasional setelah kemenangannya dalam peperangan tersebut, dia berkata :"Saya tidak percaya dengan negara Islam, bahkan tidak percaya dengan bangsa Utsmaniyah. Kita masing-masing harus meyakini apa yang menjadi pendapat kita. Adapun pemerintah (di Ankara) harus mengikuti garis politik yang tetap, terencana, dan didasarkan pada fakta-fakta dengan satu tujuan saja, yaitu memelihara eksistensi dan kemerdekaan negeri Turki dalam suatu wilayah yang terbatas.

Tidak boleh ada lagi perasaan atau emosi yang mempengaruhi politik kita. Buanglah mimpi-mimpi dan khayalan-khayalan itu. Sungguh kita telah membayar mahal untuk masa lalu kita!"Musthofa Kamal di sini mengumumkan, bahwa ia menginginkan kemerdekaan Turki sebagai bangsa Turki, bukan sebagai umat Islam. Kemudian beberapa anggota Dewan Nasional Raya dan para tokoh politik meminta kepada Musthofa Kamal untuk menjelaskan pendapatnya tentang bentuk pemerintahan di Turki yang baru, sebab tidak mungkin Turki memiliki dua pemerintahan seperti yang ada saat itu: pemerintahan sementara di Ankara, dan pemerintahan resmi di Istambul yang dipimpin oleh Khalifah.Namun Musthofa Kamal tidak menjawab dan menyembunyikan apa yang menjadi maksudnya.

Dia kemudian merekayasa opini umum yang menyudutkan Khalifah Wahidudin. Disebarluaskan bahwa Khalifah adalah teman dekat Inggris dan Yunani, sehingga berkobarlah kebencian rakyat kepada Khalifah. Dalam situasi seperti ini dia mengumpulkan Dewan Nasional untuk menjelaskan masalah bentuk pemerintahan. Saat itu dia tahu bahwa dia mampu untuk meyakinkan para anggota Dewan untuk mencopot Wahidudin dan menghapuskan kekuasaannya. Meskipun demikian, dia tidak berani menyerang Khilafah. Sebab, hal ini akan dapat menyinggung perasaan Islami dalam lubuk hati seluruh rakyat Turki. Karena itu dia tidak menyinggung-nyinggung Khilafah dan hanya mengusulkan pemisahan antara sulthonah (kekuasaan Khalifah) dengan Khilafah. Anggota Dewan tidak menyetujui usulan ini, lalu mereka membentuk Panitia Urusan Undang-Undang untuk mengkajinya. Keesokan harinya tatkala Panitia mengkaji masalah ini, Musthofa Kamal ikut hadir dan mengawasi jalannya rapat. Panitia ini beranggotakan para ulama dan pengacara yang kemudian mempertimbangkan usulan ini berdasarkan nash-nash syara'. Mereka menganggap usulan itu menyalahi syara', sebab di dalam Islam memang tidak ada kekuasaan agama dan kekuasaan dunia. Jadi Sulthonah dan Khilafah adalah satu kesatuan, tidak ada satu segi yang namanya agama dan segi lain yang namanya negara.

Yang ada adalah peraturan Islam (nizhamul Islam) di mana masalah negara adalah bagian dari peraturan ini. Karena itu, panitia menolak usulan Musthofa Kamal. Namun Musthofa Kamal tetap bersikeras menginginkan pemisahan agama dari negara dengan memisahkan sulthonah dari Khilafah. Ini sebenarnya adalah apa yang diminta oleh Sekutu dari Musthofa Kamal. Karena itu tatkala Musthofa Kamal mendengar pembahasan Panitia, dia sangat geram dan menginterupsi sidang panitia seraya berteriak dengan lagak seorang diktator : "Wahai tuan-tuan,Sultan Utsmani telah merampas kedaulatan milik rakyat dengan kekuatan. Maka dengan kekuatan pula rakyat akan menarik kembali kedaulatannya dari Sultan. Kekuasaan Khalifah (sulthonah) wajib dipisahkan dan dihapuskan dari Khilafah. Anda setuju atau tidak, inilah yang akan terjadi. Apa pun yang terjadi, sebagian kepala kalian pasti akan jatuh terpancung selama Anda tidak setuju." Kemudian Musthofa Kamal mengundang rapat anggota Dewan Nasional untuk segera membicarakan usulannya. Sebagian besar anggota Dewan tidak menyetujui usulan Musthofa Kamal. Kawan-kawan Musthofa Kamal kemudian meminta voting dengan cara mengangkat tangan sekali saja. Anggota yang lain mengatakan, "Jika kita akan mengadakan voting, hendaklah dengan menyebutkan nama." Musthofa Kamal menolak usulan ini kemudian berteriak seraya mengancam, "Saya percaya Dewan akan menerima usulan saya dengan suara bulat. Cukuplah pengambilan suara dengan mengangkat tangan."Ketika usulan disampaikan dalam voting, tak ada yang mengangkat tangan kecuali beberapa gelintir saja. Akan tetapi diumumkan kemudian bahwa Dewan menyetujui usulan secara aklamasi. Para anggota Dewan menjadi heboh dan sebagian mereka berdiri di atas kursinya seraya berteriak menghujat,

"Ini tidak benar dan kami tidak setuju !" Namun para pendukung Musthofa Kamal membalasnya dengan teriakan yang menenggelamkan protes itu dan akhirnya terjadilah saling caci-maki di antara mereka. Namun ketua sidang sekali lagi mengumumkan bahwa Dewan menyetujui secara bulat penghapusan sulthonah. Kemudian sidang bubar. Ketika Khalifah Wahidudin mengetahui hal itu dia lalu melarikan diri.Setelah itu dia digantikan oleh anak saudara lelakinya, yaitu Abdul Majid sebagai Khalifah kaum muslimin, yang tidak lagi memiliki kekuasaan apa-apa.Meskipun demikian sebagian besar anggota Dewan Nasional sebenarnya tetap menentang Musthofa Kamal setelah pengumuman pemisahan sulthonah dari Khilafah. Musthofa Kamal kemudian berupaya untuk mengumumkan bentuk pemerintahan yang diinginkannya, yaitu republik Turki dan mengangkat dirinya sendiri sebagai presidennya. Dia kemudian membuat rekayasa politik untuk mewujudkan tujuannya ini. Direkayasalah kemudian krisis-krisis yang menyulitkan yang berujung pada permintaan mundur kepada para menteri yang menjalankan kekuasaan. Permintaan ini diajukan kepada Dewan Nasional Raya Turki, sementara Dewan belum mendapatkan pihak pengganti yang akan menjalankan kekuasaan itu. Setelah krisis yang bertubi-tubi akhirnya diusulkan oleh Dewan agar Musthofa Kamal-lah yang memegang kekuasaan kabinet tersebut.Pada saat itulah, dia kemudian mengumumkan Turki menjadi republik dan Musthofa Kamal dipilih oleh Dewan Nasional menjadi presidennya yang pertama. Namun masalahnya tidak semudah yang diduga Musthofa Kamal. Bangsa Turki yang muslim menganggap Musthofa Kamal telah menyimpang dari Islam dan menghancurkan Islam.

Mayoritas rakyat Turki menganggap bahwa para penguasa Ankara yang baru telah murtad. Akhirnya masyarakat kembali mendukung Sultan Abdul Majid dan mencoba mengembalikan kekuasan kepadanya untuk menumpas orang-orang murtad tersebut (An Nabhani, 1953).Musthofa Kamal akhirnya menyadari bahwa mayoritas rakyat membencinya dan menuduhnya sebagai orang zindiq, kafir, dan atheis. Karena itu, kemudian ia melancarkan propaganda untuk menentang Khalifah dan Khilafah serta memprovokasi Dewan Nasional sehingga akhirnya mereka mengeluarkan sebuah undang-undang yang memutuskan bahwa setiap penentangan terhadap republik dan setiap dukungan kepada Khalifah adalah sebuah pengkhianatan yang akan diganjar dengan hukuman mati.Selain itu Musthofa Kamal juga melancarkan teror-teror untuk kepentingannya. Seorang anggota Dewan yang menyerukan keharusan Khilafah telah dibunuh oleh orang suruhan Musthofa Kamal ketika ia pulang ke rumah setelah mengikuti sidang di Dewan Nasional. Seorang anggota Dewan yang lain menyampaikan pidato yang membela Islam yang dihadiri oleh Musthofa Kamal. Musthofa Kamal kemudian mengancam anggota tersebut dengan hukuman gantung bila mengucapkan pidato seperti itu lagi. Dalam kondisi seperti itu para pendukung Musthofa Kamal yang moderat ada yang memintanya menjadi Khalifah, karena mereka takut terhadap hancurnya Khilafah. Musthofa Kamal menolaknya. Kemudian datang pula dua utusan dari Mesir dan India yang memintanya menjadi Khalifah bagi kaum muslimin. Namun Musthofa Kamal tetap menolaknya. Dia terus melancarkan propaganda untuk menimbulkan kebencian terhadap Khalifah. Bahkan sampai-sampai Khalifah dituduh sebagai sekutu asing. Akibatnya, meluaslah kebencian terhadapnya. Di tengah suasana yang demikian, pada tanggal 3 Maret 1924 Musthofa Kamal berbicara di hadapan Dewan Nasional mengenai rencananya untuk menghapuskan Khilafah, mengusir Khalifah, dan memisahkan agama dari negara. Pada saat itu dia berkata, "Dengan harga berapa kita wajib menjaga republik yang terancam dan berdiri di atas dasar-dasar ilmiah yang kokoh? Khalifah dan keturunan Bani Utsman harus diusir. Pengadilan-pengadilan agama yang kuno dan segenap undang-undangnya wajib digantikan dengan pengadilan dan undang-undang modern. Madrasah-madrasah para agamawan (rijaluddin) harus digantikan dengan madrasah-madrasah negeri yang tidak mempelajari agama."Dengan gaya seorang diktator dia menetapkan rencananya ini di bawah persetujuan Dewan Nasional tanpa diskusi atau tanya jawab apa pun. Kemudian dia mengirim utusan kepada penguasa Istambul untuk mengusir Khalifah Abdul Majid keluar dari Turki sebelum datangnya fajar keesokan harinya. Penguasa Istambul itu bersama beberapa pengawal kemudian mendatangi istana Khalifah di tengah malam, lalu memaksanya naik mobil yang kemudian membawanya keluar batas wilayah Turki. Khalifah tidak diijinkan membawa barang apa pun kecuali sebuah koper pakaian dan secuil uang (An Nabhani, 1953).

Dengan demikian, Musthofa Kamal telah menghancurkan Daulah Islamiyah dan peraturan hidup Islam, kemudian mendirikan negara dan sistem Kapitalis yang kafir sebagai gantinya. Lewat Musthofa Kamal terwujudlah mimpi orang-orang kafir sejak Perang Salib, yaitu menghancurkan Khilafah Islamiyah

No comments:


Binnabil Huda - Unic
Mp3-Codes.com